Dampak dari Pemberian “toxic milk” yaitu ASI yang dapat memicu terjadinya inflamasi

Ini adalah salah satu gambar dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Wan dkk. Penelitian ini menunjukan dampak dari pemberian ASI “toxic milk” pada bayi. Apa itu “toxic milk”? Istilah ini digunakan untuk menggambarkan bahaya dari ASI yang dapat diberikan ibu kepada bayinya. Pada awal kehidupan bayi akan menggantungkan kebutuhan nutrisinya baik itu karbohidrat, lemak, protain serta zat gizi lain dari ASI yang diberikan ibu. Meskipun demikian ada kondisi dimana ibu menghasilkan “ASI yang beracun” alih-alih makanan yang dapat mendukung pertumbuhan bayinya.

“Toxic milk” adalah ASI yang mengandung molekul lemak yang bersifat inflamatori atau dapat memacu terjadinya proses inflamasi di dalam tubuh bayi. Salah satu penyebab terjadinya hal ini adalah karena sang ibu yang menghasilkan ASI bagi bayinya mengalami defisiensi PPARG. PPARG atau Peroxisome Proliferator Activated Receptor Gamma adalah salah satu faktor transkripsi yang terdapat pada DNA sel tubuh manusia dan bekerja untuk menghasilkan dan memengaruhi beberapa jenis protein dan peristiwa biokimiawi di dalam tubuh. Salah satunya adalah pembentukan jaringan adiposa dan proses inflamasi.

Wan dkk berusaha membuktikan teori peran PPARG dalam pengaturan terjadinya inflamasi dengan memodifikai gen sekelompok tikus agar mengalami defisiensi PPARG. Pada gambar B terlihat hasil dari percobaan tersebut. Tikus yang mendapatkan ASI dari ibu yang mengalami defisiensi PPARG (+Cre) tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan tikus yang mendapatkan ASI dari ibu yang tidak mengalami defisiensi PPARG (-Cre).

Untuk menggambarkan peran PPARG dalam pengaturan proses inflamasi, maka peneliti mengamati tikus-tikus tersebut selama beberapa hari dan menemukan bahwa tikus +cre mengalami kebotakan pada sebagian tubuhnya. Hal ini merupakan parameter yang digunakan oleh peneliti untuk menunjukan terjadinya inflamasi secara klinis. Dapat Anda saksikan pada gambar C bahwa bayi tikus +cre selain menjadi lebih botak juga tumbuh berbeda dengan bayi tikus -cre. Setelah pemberian ASI dihentikan dan tikus menerima makanan standar (chow diet) , yaitu setelah hari ke 20, maka sedikit demi sedikit tikus +cre mengalami perbaikan pertumbuhan dan rambutnya kembali tumbuh. Hal ini terlihat pada gambar C P34 (34 hari setelah kelahiran) dimana rambut bayi mulai tumbuh. Hal ini menunjukkan mulai berkurangnya proses inflamasi yang terjadi setelah lepas dari ASI.

Penelitian ini membuktikan bahwa pemberian ASI dari ibu yang mengalami defisiensi PPARG dapat menyebabkan bayi mengalami inflamasi mengingat di dalam ASInya terdapat lipida yang bersifat inflamatoris.

Sumber

Yihong Wan, Alan Saghatelian, Ling-Wa Chong, Chun-Li Zhang, Benjamin F. Cravatt, and Ronald M. Evans. 2007. Maternal PPAR protects nursing neonates by suppressing the production of inflammatory milk. GENES & DEVELOPMENT 21:1895–1908.

http://www.genesdev.org/cgi/doi/10.1101/gad.1567207

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: