Laktat dan Performa Atlet Selama Latihan Ketahanan

Oleh: Harry Freitag LM

Berdasarkan studi pada atlet olah raga ketahanan, terdapat tiga faktor penentu performa ketahanan yaitu maximal aerobic capacity, excercise economy dan lactate threshold. Maximal aerobic capacity menggambarkan batas atas dari produksi energi maksimal melalui fosforilasi oksidatif. Excercise economy menunjukkan konsumsi oksigen yang terjadi selama berlatih pada jenis latihan yang lebih rendah submaksimal dibawah lactate threshold. Sedangkan lactate threshold adalah kemampuan untuk menjaga konsumsi oksigen maksimal seseorang selama menjalan latihan.

Laktat dihasilkan dari piruvat yang dikatalisis oleh enzim lactate dehydrogenase (LDH). Zat ini dapat dengan cepat diserap ke dalam aliran darah kemudian akan masuk kembali ke jaringan otot atau otot jantung. Peningkatan derajat keasaman akibat penumpukan asam laktat ini ditengarai menjadi penyebab terjadinya inaktivasi beberapa jenis enzim yang terlibat langsung dalam transfer energi di otot skelet. Jumlah laktat dan H+ yang menumpuk pada otot dan darah dapat menyebabkan kelelahan yang memberikan sinyal agar latihan harus diperlambat atau dihentikan.

Laktat diproduksi melalui proses anaerobik atau yang sering disebut dengan glikolisis cepat. Metabolisme anaerobik ini memiliki kelemahan karena energi yang diproduksi lebih kecil daripada metabolisme aerobik.  Salah satu penanda produksi energi adalah tingkat produksi ATP. Pada glikolisis aerobik, ATP yang diproduksi dapat mencapai 36-38 unit pada setiap prosesnya sedangkan pada glikolisis anaerob ATP yang diproduksi hanya 2 unit. Terdapat dua jenis glikolisis (pemecahan glukosa) untuk menghasilkan energi yaitu glikolisis aerob dan glikolisis anaerob. Glikosis aerobik adalah jenis glikolisis yang yang menghasilkan Adenosine Triphosphate (ATP) dalam jumlah tinggi. Pada glikolisis aerobik, laktat tidak diproduksi karena NADH+ dipindahkan ke mitokondria pasalnya jumlah mitokondria dan jumlah oksigen dalam otot cukup untuk melakukan kerja.

Glikosis aerob relatif lebih lambat dan membutuhkan kepadatan mitokondria dan oksigen dalam jumlah tinggi. Selama melakukan latihan dengan intensitas tinggi, beberapa serabut otot yang teraktivasi mungkin memiliki tingkat kepadatan mitokondria yang rendah. Hal ini menyebabkan jumlah oksigen tidak cukup untuk mengubah piruvat menjadi air dan karbon dioksida  sehingga mengandalkan glikolisis anaerob.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: