Adiponektin, Obesitas dan Penyakit Kardiovaskuler

Oleh: Harry Freitag LM

Adiponektin

Adiponektin adalah sitokin yang spesifik pada jaringan adiposa dan sering dikaitkan dengan kejadian obesitas. Protein ini memiliki struktur yang menyerupai collagen VIII, Collagen X dan complement component C1q. Adiponectin memengaruhi sensitivitas insulin sebab zat ini mampu meningkatkan fosforilasi tirosin di reseptor insulin dan insulin receptor substrate di sel otot. Hal ini akan mengurangi konsentrasi asam lemak di dalam sirkulasi dan mengurangi kadar trigliserida di dalam otot dan hati18. Adiponektin juda dapat mengurangi adhesi macrofag dan monodit pada endothelium, mencegah pembentukkan sel foam dan menghambat proliferasi sel otot halus di jaringan vaskuler.

Adiponektin pada individu dengan diabetes mellitus

Sitokin ini adalah keluarga adipositokin yang mengalami penurunan konsentrasi pada individu dengan obesitas dan diabetes mellitus. Konsentrasi adiponektin akan meningkat jika individu tersebut mengalami penurunan berat badan. Pada individu yang mengalami obesitas viseral dengan diabetes tipe 2, diketahui bahwa ekspresi adiponektin mengalami penurunan secara signifikan. Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan, adiponektin ditemukan memegang peranan penting pada terjadinya resistensi insulin. Kadar sitokin ini di dalam sirkulasi berhubungan secara positif terhadap toleransi glukosa dan sensitivitas insulin.

Adiponektin telah diketahui berkaitan dengan obesitas dan resistensi insulin bahkan sejak usia dini. Becha et al. (2004) membandingkan kadar adiponektin, profil lipid dan proinsulin antara remaja obes dan normal. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa remaja obes memiliki adiponektin yang hingga 50% lebih rendah dibandingkan dengan remaja dengan berat badan normal. Kadar adiponektin ini secara positif berkaitan dengan sensitivitas insulin hepatik dan perifer dan berkaitan secara negatif dengan kadar proinsulin dan rasio proinsulin-insulin. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hipoadiponektinemia yang ditemukan pada remaja berkaitan dengan obesitas (terutama obesitas viseral), resistensi insulin, disfungsi sel β pankreas dan beberapa komponen sindroma metabolik. Adipnektin dapat dijadikan sebagai penanda awal pada remaja yang obes sebagai risiko untuk munculnya diabetes dan atherosklerosis.

Polimorfisme Adiponektin dan Dampaknya

Berdasarkan beberapa studi populasi, diketahui bahwa konsentrasi adiponektin pada beberapa ras di dunia tidak sama. Anak yang berasal dari ras Afrika-Amerika memiliki konsentrasi adiponektin yang lebih rendah dibandingkan dengan ras kaukasian. Penelitian lain menunjukkan bahwa adiponektin serum dari pria dengan ras Afrika-Amerika lebih rendah 37% dibandingkan dengan pria dari ras kuakasian.

Dengan menggunakan genome scan, ditekahui bahwa polimorfisme yang terjadi pada kromosom 3q27 berkaitan dengan diabetes mellitus tipe 2 dan sindroma metabolik. Lokasi gen tersebut juga merupakan lokasi dimana gen adiponektin berada sehingga menguatkan anggapan bahwa variabilitas genetik dari sitokin tersebut turut menentukan munculnya sindroma sindroma metabolik.

Gen adiponektin terdiri dari tiga ekson dan dua intron yang berjajar sepanjang 17kb. Polimorfisme yang terjadi pada gen adiponektin telah diidentifikasi pada manusia dan telah diteliti berkaitan dengan konsentrasi adiponektin dalam plasma dan indeks resistensi insulin. Banyak dari penelitian tersebut yang mengarah pada dua jenis polimorfisme yaitu pada substitusi T menjadi G pada ekson 2 (45T>G) dan substitusi G menjadi T pada intron 2 (276G>T). Kedua jenis polimorfisme tersebut berkaitan dengan obesitas, resistensi insulin dan diabetes tipe 2.

Polimorfisme pada adiponektin juga telah diteliti pada wanita Asia. Zhang et al. melakukan penelitian pada 240 wanita Han Chinese dengan membandingkan single nucleus polymorphism (SNP) pada +45G15G(T/G) dan +276(G/T). Dari penelitian tersebut diketahui bahwa varian G pada SNP +276(G/T) mengalami peningkatan kadar insulin puasa dan indeks HOMA. Disamping itu, pada pasien polycystic ovary syndrome yang menjadi subyek dalam penelitian tersebut dengan varian G/G dan G/T memiliki kadar adiponektin serum yang lebih rendah dibandingkan dengan varian T/T.

Comments
One Response to “Adiponektin, Obesitas dan Penyakit Kardiovaskuler”
  1. diah mengatakan:

    salam. cukup menarik.
    apakah ada polimorfisme gen adiponectin unt coronary arteri disease

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: