Sejarah Pemberian Makanan Enteral

Oleh: Harry Freitag LM

Pemberian makanan enteral adalah suatu metode untuk memberikan zat gizi pada saluran pencernaan melalui suatu saluran (tube). Metode ini digunakan untuk dukungan gizi pada pasien yang tidak dapat memasukkan atau mencerna makanan dalam jumlah cukup namun memiliki kapasitas fungsi saluran cerna yang memadai.

Sejaran Makanan Enteral

Memberikan zat gizi langsung pada saluran cerna telah dikenal sejak jaman peradaban Mesir menggunakan zat gizi dalam “enema”. Tabib dalam peradaban yunani menggunakan enema yang mengandung wine, whey, susu dan kaldu barley untuk mengatasi diare. Pada abad ke sembilan belas, dokter-dokter di Eropa memberikan enema yang mengadung ekstrak daging, susu dan whiskey. Pada tahun 1598, seorang dokter dari Venesia, Capivacceus, pertama kali menggunakan saluran pipa pda esophagus. Penggunaan pipa kecil dari perak melalui hidung hingga esophagus telah dilaporkan pada tahun 1617 untuk memberi makan pasien yang mengalami tetanus. Perkembangan pemberian makanan melalui saluran cerna mulai dikembangkan pada abad ke delapan belas ketika Juhn Hunter menggunakan pipa nasogastrik yang dibuat dari kulit binatang untuk memberi makan pasien dengan disfagia neurogenik. Penggunaan pipa nasograstrik kemudian menyebar pad aabad ke sembilan belas.

Pada tahun 1918 Andersen memperkenalkan konsep pemberian makanan enteral pada pasuen dengan posoperasi saat dia memberikan jejunal feeding pada pasien yang mengikuti gastrojejunostomy. Pada tahun 1959, Barron melaporkan keberhasilannya menggunakan makanan enteral pada ratusan pasien paskabedah. Dia menggunakan jus dan makanan hancur menjadi campuran yang halus kemudian dimasukkan melalui hidung dengan pipa polyethylene. Pada tahun 1930an formula enteral yang terspesialisasi telah dikembangkan dengan kemunculan hidrosilat kasein.

Makanan enteral merupakan suatu terobosan dalam pemberian zat gizi bagi pasien dengan beragam penyakit yang secara potensial mempengaruhi morbiditas,mortalitas dan kualitas hidup. Meskipun demikian metode ini tidak selalu dapat memberikan manfaat yang diinginkan pada semua pasien yang tidak dapat makan.

Referensi

Moshe Shike. Enteral Feeding dalam Modern Nutrition in Health and Disease, 10th Edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: