Protein dan Masa Otot pada Pasien Bedah

Oleh: Harry Freitag LM

Sebagai tambahan, penurunan masa otot pada pasien bedah juga berkaitan dengan rendahnya mobilisasi paska operasi karena latihan merupakan faktor penting dalam penentuan pertumbuhan massa otot. Bahkan tanpa luka sekalipun, kehilangan protein dapat terjadi jika pasien memiliki mobilitas otot yang rendah lebih dari 3 minggu bahkan dengan asupan gizi yang mencukupi kebutuhan (Deitrick et al., 1948). Hal lain yang membedakan kehilangan otot antara pasien dengan luka atau karena kelaparan adalah respon stress. Kelaparan akan berdampak pada penurunan pengeluaran energi dan peningkatan lipogenesis serta pembentukkan badan keton. Hal ini tidak mengarah pada respon protein fase akut.

Pada kondisi stress terjadi peningkatan pengeluaran energi, peningkatan produksi protein hepar, perangsangan respon protein fase akut dan peningkatan proteolisis tanpa peroduksi badan keton. Asam lemak, badan keton dan gliserol merupakan sumber energi utama pada kondisi kelaparan hingga mencapai 95%. Pada kondisi stress, asam amino lebih berperan sebagai sumber utama yang lebih penting melalui glukoneogenesis hepar (Cerra et al., 1996; Shaw-Delanty et al., 1990). Pada intinya kondisi luka dapat meningkatkan pembentukkan dan katabolismenya dipengatuhi oleh imobilisasi otot, perubahan hormonal, respon sitokin dan kelaparan (Shaw dan Wolfe, 1989; Shaw et al., 1985). Karakteristik dari kehilangan protein otot adalah peningkatan eksresi 3-methyl-histidine yang merupakan turunan dari metabolisme serat otot aktin dan myosin. Untuk mengatasi kehilangan ini maka diit yang diberikan kepada pasien dengan kondisi paska operasi mengandung protein sebanyak 1.2 – 1.5 g/kgBB.

Referensi

Cerra FB. In: Mattox KL, Feliciano DV, Moore EE, eds. Trauma. 3rd ed. Stamford, CT: Appleton & Lange, 1996:1155-76.

Deitrick JE, Whedon GD, Shorr E. Am J Med 1948;4:3-13.

Shaw-Delanty SN, Elwyn DH, Askanazi J et al. Clin Nutr 1990; 9:305-10.

Shaw JHF, Wolfe RR. Ann Surg 1989;207:63-72.

Shaw JHF, Klein S, Wolfe RR. Surgery 1985;97:557-68.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: