Penyebab Obesitas pada Orang Dewasa

Obesitas adalah kondisi dimana terjadi penumpukkan lemak secara berlebihan, baik secara umum maupun terlokalisir. Hal ini dapat ditentukan dalam beberapa cara tergantung pada kebutuhan akan keakuratan hasil pengukuran. Metode yang dianjurkan adalah Indeks Masa Tubuh (IMT) atau Quetelet Index (BB/TB2) dimana BB adalah berat badan yang diukur dalam skala kilogram dan TB adalah tinggi badan yang diukur dalam skala meter. Petunjuk klinis National Institutes of Health mengklasifikasikan individu dengan IMT lebih dari 25 sebagai kelebihan berat badan. Sedangkan orang dengan IMT lebih dari 30 ditetapkan sebagai obes (Laquatra, 2000).

Keadaan obesitas ini dapat terjadi ketika energi yang dikonsumsi melebihi energi yang dikeluarkan. Karena faktor genetik dan lingkungan mempengaruhi konsumsi energi dan pengeluaran energi obesitas harus dilihat sebagai gangguan heterogen dengan penyebab yang beraneka ragam. Faktor genetika pada kejadian obesitas dikaitkan dengan leptin yang pada tikus dikode oleh gen ob. Pada tikus, pemberian leptin akan menurunkan asupan makanan dan akhirnya akan menurunkan berat badan. Hal ini menunjukkan bahwa leptin berhubungan dengan obesitas. Meskipun demikian, pada manusia yang mengalami obes juga ditemukan kadar leptin yang tinggi. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa terjadi resistensi leptin individu yang mengalami obesitas. Beberapa gen diperkirakan berpengaruh terhadap obesitas, tersebut terutama yang mengkode protein yang terkait dengan penggunaan energi oleh tubuh (Hill et al., 2000).

Menurut hukum termodinamik, obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara asupan energi dengan keluaran energi (energy expenditure) sehingga terjadi kelebihan energi yang selanjutnya disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Sebagian besar gangguan  homeostasis energi ini disebabkan oleh faktor idiopatik (obesitas primer atau nutrisional) sedangkan faktor endogen (obesitas sekunder atau non-nutrisional) yang disebabkan oleh kelainan hormonal, sindrom, atau defek genetik hanya sekitar 10% kasus (Sjarif,2003).

Penyebab obesitas idiopatik belum diketahui secara pasti, akan tetapi merupakan interaksi multifaktorial. Secara garis besar dibedakan menjadi dua yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan (Sjarif,2003).

Faktor genetik

Kegemukkan orang tua merupakan faktor genetik yang berperanan besar. Bila kedua orang tua obesitas, 80% anaknya menjadi obesitas; bila salah satu orang tua obesitas, kejadian obesitas menjadi 40% dan bila kedua orang tua tidak obesitas, peluangnya menjadi 14% (Sjarif,2003).

Faktor lingkungan

Aktivitas fisik

Aktivitas fisik merupakan komponen utama dari energy expenditure, yaitu sekitar 20-50%dari total energy expenditure. Penelitian di negara maju mendapatkan hubungan antara aktivitas fisik yang rendah dengan kejadian obesitas. Individu dengan aktivitas fisik yang rendah mempunyai risiko peningkatan berat badan sebesar 5 kg (Kopelman,2000).

Asupan makanan

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi lemak yang berlebihan berkaitan dengan obesitas. Penelitian di Amerika dan Finlandia menunjukkan bahwa kelompok dengan asupan tinggi lemak mempunyai resiko peningkatan berat badan lebih besar dibanding kelompok dengan asupan rendah lemak dengan OR (Odds Ratio) 1,7 (Fukuda cit Hidayati et al., 2007). Keadaan ini disebabkan karena makanan berlemak mempunyai energy density lebih besar dan lebih tidak mengenyangkan serta mempunyai efek termogenesis yang lebih kecil dibandingkan makanan yang banyak mengandung protein dan karbohidrat. Makanan berlemak juga mempunyai rasa yang lezat sehingga akan meningkatkan selera makan yang akhirnya terjadi konsumsi yang berlebihan (Kopelman,2000).

Sosial ekonomi

Perubahan pengetahuan, sikap, perilaku, gaya hidup, dan pola makan, serta peningkatan pendapatan mempengaruhi pemilihan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi (Sjarif,2003). Suatu data menunjukkan bahwa beberapa tahun terakhir terlihat adanya perubahan gaya hidup yang mengarah pada penurunan aktivitas fisik, seperti: ke sekolah dengan naik kendaraan dan kurangnya aktivitas bermain dengan teman serta lingkungan rumah yang tidak memungkinkan anak-anak bermain diluar rumah, sehingga anak lebih senang bermain komputer/ games, nonton TV atau video dibanding melakukan aktivitas fisik. Selain itu juga ketersediaan dan harga dari junk food yang mudah terjangkau akan beresiko menimbulkan obesitas (Chandrawinata,2003).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: