SINDROMA METABOLIK

Oleh: Harry Freitag L.M., S.Gz

Sindroma metabolik merupakan kumpulan gangguan yang terkait dengan penyakit kardiovaskuler. Adult Tratment Panel III (ATP III) menyebutkan bahwa terdapat 6 komponen sindroma metabolik yang berhubungan dengan Cardiovascular Disease atau penyakit kardiovaskuler. Enam komponen tersebut adalah obesitas abnominal, dislipidemia, peningkatan tekanan darah, resistensi insulin dan gangguan toleransi glukosa, status proinflamasi dan status protrombosis. Dari keenam komponen tersebut hal yang paling sering ditemui sebagai outcome sindroma metabolik adalah penyakit kardiovaskular dan diabetes mellitus tipe 2 pada beberapa kasus (Grundy et al., 2004).

Dengan menggunakan standar ATP III sindroma metabolik dapat diketahui setelah pengukuran gula darah dan jika gula darah puasa melebihi 110 mg/dL maka akan termasuk kriteria sindroma metabolik. Kriteria lain dalam penegakkan diagnosis sindroma metabolik adalah lingkar pinggang (pria>102 cm, wanita>88 cm), trigliserida (>150 mg/dL), kolesterol HDL (pria< 40 mg/dL, wanita<50 mg/dL) dan tekanan darah (>130/>85 mmHg) (Grundy et al., 2004).

Obesitas abnominal merupakan faktor yang paling kuat berhubungan dengan sindroma metabolik. Disamping itu resistensi insulin juga sering hadir pada orang yang menderita sindroma metabolik. Pasien dengan resistensi insulin sering kali mengalami intoleransi glukosa. Jika tingkat hiperglikemia dari intoleransi glukosa ini mencapai tingkat diabetes maka hal ini akan menjadi faktor penyakit kardiovaskuler yang kuat (Grundy et al., 2004). Meskipun demikian, pada kelompok minoritas tertentu obesitas tidak selalu berhubungan dengan resistensi insulin (Reaven, 1988).

Obesitas abdominal berkaitan dengan resiko metabolik, hal ini disebabkan sel adiposa akan melepaskan beberapa produk yang akan mempengaruhi resiko tersebut. Produk tersebut adalah Nonesterified Fatty Acid (NEFA), cytokine, PAI-1 dan adinopectin. NEFA yang tinggi akan mengisi otot dan hati dengan lemak yang akan meningkatkan resistensi insulin. Peningkatan PAI-1 akan menyebabkan status protrombosis dan rendahnya adiponectin sehingga memperparah resiko sindroma metabolik tersebut (Grundy et al., 2004).

 

Referensi:

Grundy, S.M., Brewer, H.B., Cleeman, J.I, Smith, S.C., & Lenfant, C. 2004. Definition of Metabolic Syndrome: Report of the National Heart, Lung, and Blood Institute/ American Heart Association Conference on Scientific Issues Related to Definition. Circulation,109,433-438.

Reaven, G.M. 1988. Role of Insulin Resistance in Human Disease. Diabetes,37,1595-1607.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: