RESISTENSI INSULIN dan OBESITAS

Oleh: Harry Freitag L.M., S.Gz

Obesitas adalah kondisi dimana terjadi penumpukkan lemak secara berlebihan, baik secara umum maupun terlokalisir. Beberapa perubahan telah diketahui terjadi pada individu yang mengalami obesitas seperti perubahan sistem hormonal dan metabolisme. Perubahan ini dapat terjadi berupa gangguan hormon pertumbuhan, peningkatan triiodotironin dan penurunan kadar tiroksin plasma, peningkatan hormon kortisol. Selain itu terjadinya peningkatan hormon luteinzing, estrogen dan androgen serta gangguan pada siklus menstruasi telah dilaporkan terjadi pada wanita yang mengalami obesitas. Pada pria dengan obesitas, terjadi penurunan kadar testosteron yang disertai perubahan androgen menjadi estrogen namun tidak berpengaruh pada libido dan potensi seksual (Hirsch et al., 1995).

Individu yang mengalami obesitas sering ditemukan menderita gangguan toleransi glukosa (impaired glucose tolerance). Penderita obesitas yang mengalami penurunan berat badan menunjukkan peningkatan aspek metabolik terutama pada kontrol glikemik, tekanan darah dan penurunan trigliserida plasma. Individu obes yang mengalami penumpukkan lemak di bagian perut memiliki resiko mengalami gangguan toleransi glukosa, non-insulin dependent diabetes mellitus dan gangguan metabolik lain yang lebih tinggi. Obesitas akan menyebabkan terganggunya kemampuan insulin untuk mempengaruhi pengambilan glukosa dan metabolismenya pada jaringan yang sensitif terhadap insulin (yang sering disebut resistensi insulin) serta meningkatan sekresi insulin plasma. Pengurangan pengambilan glukosa yang distimulasi insulin pada jaringan perifer dan peningkatan produksi glukosa hepatik akan mengganggu penghambatan pengeluaran glukosa dari hati oleh insulin pada saat puasa. Dari penelitian pada sel pasien obesitas telah diketahui bahwa terjadi pengurangan hubungan pengikatan insulin dengan reseptor spesifik, pengurangan aktivitas reseptor insulin tirosin kinase, pengurangan aktivitas transpor glukosa dan pengurangan jumlah dan aktivitas glycogen synthase (Hirsch et al., 1995).

Orang gemuk dapat menjadi resisten terhadap insulin, menyebabkan peningkatan hormon insulin dalam darah. Insulin mengurangi lipolisis (pemecahan lemak) dan meningkatkan pembentukkan dan ambilan lemak. Orang gemuk berespon terhadap makanan berkarbohidrat dengan menaikan insulin dan mengurangi penggunaan asam lemak. Resistensi insulin telah diketahui merupakan salah satu ciri dari obesitas dan diabetes tipe 2. Hal ini mungkin dapat disebabkan oleh kelebihan gizi yang berkepanjangan dan hiperinsulinemia pada penderita obesitas. Salah satu dampak dari resistensi insulin adalah tingginya kadar gula darah (hiperglikemia) (Ricart dan Real, 2001).

 

Referensi:

Hirsch, J., Salans, L.B., & Aronne, L.J. 1995. Obesity dalam Principles and Practice of Endocrinology and Metabolism Second Edition. J.B. Philadelphia : Lippincott Company.

Ricart, W. & Real, J.M. F. 2001. No Decrase in Free IGF-I with Increasing Insulin in Obesity-Related Insulin Resistance. Obesity Research, 9, 631-636.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: