PENGATURAN MAGNESIUM SELULER

Oleh: Harry Freitag L.M., S.Gz

Ion seperti magnesium dan kalisum memegang peran penting dalam menentukan respon seluler terhadap rangsangan eksternal. Peningkatan kalsium bebas dan penurunan magnesium bebas dalam sitosol tidak hanya akan meningkatkan tekanan darah dan merangsang vasokonstriksi, namun juga menyebabkan resistensi insulin dan peningkatan sekresi insulin dari sel beta pankreas. Pengaturan ion dalam sitostol ini penting untuk menjaga fungsi dan tingkat respon sel terhadap pengaruh luar.

Kesimpulan mengenai efek ionik magnesium, hipertensi dan resistensi insulin ini kemudian diperkuat dengan penemuan Barbagallo et al. pada tahun 2001. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa individu yang mengalami hipertensi memiliki kadar magnesium bebas dalam sitosol yang lebih rendah dibandingkan dengan individu dengan tekanan darah normal. Selain itu, pada individu dengan hipertensi, respon magnesium seluler terhadap hiperglikemia lebih buruk dibandingkan dengan individu dengan tekanan darah normal. Dengan membandingkan sel eritrosit dari individu dengan tekanan darah normal dan tekanan darah tinggi, studi ini menunjukkan bahwa perubahan magnesium relatif menjadi magnesium basal antara kedua kelompok ini berbeda. Kadar magnesium basal merupakan indikator magnesium yang penting mengingat respon magnesium seluler terhadap glukosa terkait dengan magnesium basal.         

Berdasarkan hipothesis ionik yang dipublikasikan oleh Barbagallo et al. (1997) pada jurnal Diabetes and Metabolism, profil ion (kalsium dan megnesium) yang abnormal merupakan salah satu karakteristik dari hipertensi dan penyakit diabetes. Dalam hal ini, ion memegang peran penting dalam menentukan respon seluler terhadap rangsangan eksternal. Peningkatan kalsium bebas dan penurunan magnesium bebas dalam sitosol tidak hanya akan meningkatkan tekanan darah dan merangsang vasokonstriksi, namun juga menyebabkan resistensi insulin dan peningkatan sekresi insulin dari sel beta pankreas. Pengaturan ion dalam sitostol ini penting untuk menjaga fungsi dan tingkat respon sel terhadap pengaruh luar.

Kesimpulan mengenai efek ionik magnesium, hipertensi dan resistensi insulin ini kemudian diperkuat dengan penemuan Barbagallo et al. pada tahun 2001. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa individu yang mengalami hipertensi memiliki kadar magnesium bebas dalam sitosol yang lebih rendah dibandingkan dengan individu dengan tekanan darah normal. Selain itu, pada individu dengan hipertensi respon magnesium seluler terhadap hiperglikemia lebih buruk dibandingkan dengan individu dengan tekanan darah normal. Dengan membandingkan sel eritrosit dari individu dengan tekanan darah normal dan tekanan darah tinggi, studi ini menunjukkan bahwa perubahan magnesium relatif menjadi magnesium basal antara kedua kelompok ini berbeda. Kadar magnesium basal merupakan indikator magnesium yang penting mengingat respon magnesium seluler terhadap glukosa terkait dengan magnesium basal. Pada penelitian ini juga disebutkan bahwa hiperglikemia akan mengurangi kadar magnesium seluler pada individu normal, namun proses ini terganggu pada individu hipertensi. Respon Magnesium terhadap glukosa tergantung pada kadar magnesium seluler. Semakin sedikit kadar magnesium maka akan semakin lemah respon yang diberikan. Dari data ini dapat ditarik kesimpulan bahwa kondisi tekanan darah akan mempengaruhi efek asupan magnesium terhadap respon metabolik terutama yang berkaitan dengan resistensi insulin. Pengaruh ini diperkirakan berhubungan dengan respon magnesium seluler terhadap asupan magnesium.

Magnesium yang berperan dalam proses pembentukkan ATP, rekasi beberapa enzim serta fungsi ionik pada tingkat seluler membutuhkan pengaturan yang khusus. Pengaturan ini menyebabkan kadar magneisum dalam serum menjadi cenderung statis. Beberapa peneliti yang telah melakukan observasi terhadap fenomena ini menemukan bahwa redistribusi magnesium pada tingkat seluler dan plasma terkait dengan aktivitas fisik. Arah dan kekuatan dari redistribusi magnesium pada sistem sirkulasi ini dipengaruhi oleh intensitas dari latihan fisik yang dilakukan. Semakin meningkatnya kebutuhan energi dari proses anaerobik atau metabolisme glikolitik akan memacu peningkatan dari translokasi magnesium plasma ke sel darah merah (Deuster et al., 1987). 

Referensi:

Deuster, P.A., Dolev, E., Kyle, S.B., Anderson, R.A., & Schoemaker, EB. 1987. Magnesium homeostasis during high-intensity anaerobic exercise. J Appl Physiol., 62, 545-550.

Barbagallo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: