FAKTOR-FAKTOR RISIKO RESISTENSI INSULIN

Oleh: Harry Freitag L.M., S.Gz

Resistensi insulin yang terjadi pada remaja dapat disebabkan oleh barbagai macam faktor yang salin berhubungan. Faktor lingkungan seperti pola makan pola aktivitas, faktor fisiologis seperti perubahan hormonal saat remaja yang terkait dengan status pubertas dan kondisi obesitas serta faktor genetik merupakan faktor yang mempengaruhi tingkat sensitifitas insulin pada individu.

Faktor lingkungan

Lemak adalah zat gizi makro dengan nilai kalori yang tinggi sehingga kelebihan asupannya berhubungan dengan peningkatan resiko obesitas dan resistensi insulin (Golay dan Bobbioni, 1997). Diet yang tinggi lemak dapat memacu resistensi insulin dengan potensi obesogenik yang dimilikinya. Meski demikian, kontribusi lemak dalam total asupan energi dan sifat alamiah dari lemak dapat mempengaruhi resistensi insulin masih belum jelas dimengerti (Astrup et al., 2000).

Beberapa studi cross-sectional dengan menggunakan analisis HOMA sebagai prediktor resistensi insulin menemukan bahwa asupan serat berhubungan dengan kemungkinan memiliki resistensi insulin (Lau et al., 2005; Liese et al., 2005). Pada The Insulin Resistance Atherosclerosis Study diketahui bahwa serat meningkatkan sensitivitas insulin bahkan setelah koreksi dengan faktor berat badan (Liese et al., 2005). 

Penelitian eksperimental yang dilakukan oleh Pereira et al. (2002) bahkan telah menunjukkan bahwa konsumsi whole-grain orang dewasa dengan kejadian hiperinsulinemia yang kelebihan berat badan dapat meningkatkan sentifitas insulin yang berarti setelah konsumsi lebih dari 6 minggu. Meskipun terdapat hubungan antara konsumsi whole-grain terhadap rendahnya resiko sindroma metabolik, namun tidak terdapat hubungan yang signifikan antara total konsumsi serat dan penurunan glukosa darah puasa yang merupakan indikator sindroma metabolik.

Penelitian dengan Framingham offspring cohort menunjukkan bahwa konsumsi tinggi makanan produk gandum utuh, serat makanan, serat serealia dan buah dan pola diet yang memiliki indeks glikemik dan glycemic load rendah berhubungan dengan rendahnya resistensi insulin dengan menggunakan metode HOMA. Prevalensi sindroma metabolik lebih rendah 38-33% pada kelompok tersebut. Meskipun demikian pada penelitian ini serat yang paling berpengaruh adalah serat dari produk serealia (McKeown et al., 2004) dan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lau et al. (2005) diet dengan indeks glikemik dan glikemik load rendah tidak memiliki hubungan dengan sindroma metabolik.

Individu yang obes lebih mudah mengalami resistensi insulin dibandingkan dengan individu dengan berat badan normal hal ini disebabkan oleh peningkatan adipositas pada orang obes akan menyebabkan penurunan sensitivitas insulin (Ferrannini et al., 1998; Karter et al., 2005). Dan penurunan berat badan sering berhubungan dengan peningkatan sensitivitas insulin (Weyer et al., 2000). Pentingnya kegemukkan sentral dalam penentu resistensi insulin telah banyak dipertimbangkan namun penemuan-penemuan yang mendukung sering kali tidak konsisten. Obesitas abdominal telah diketahui merupakan kunci dari patogenesis resistensi insulin (Kissebah et al., 1982). Hal ini diketahui dari studi cross sectional dan studi longitudinal dengan menggunakan lingkar pinggang sebagai penentu obesitas abdominal dan kadar insulin puasa sebagai penentu sensitifitas insulin (Fujioka et al., 1989; Peiris et al., 1988a; Peiris et al., 1988b). Intervensi yang dilakukan oleh Markovic et al. (1998 ) menunjukkan baha penurunan lemak abdominal berhubungan dengan peningkatan sensitivitas insulin dan peningkatan indikator metabolisme glukosa. Klein et al. (2004) menunjukkan bahwa pengurangan lemak subkutan pada jaringan abdominal tidak meningkatn sensitivitas insulin.

Faktor genetik

          Beberapa mutasi pada gen reseptor insulin dapat mempengaruhi fungsi dari respetor tersebut. Beberapa dari mutasi itu mengarah pada gangguan biosintesis reseptor, modifikasi postranlasional molekul respetor dan mengurangi transpor reseptor ke permukaan sel. Beberapa mutasi menyebabkan gangguan pengikatan insulin pada reseptornya atau aktivasinya pada reseptor tirosin kinase yang merupakan langkah pertama dalam sinyal insulin. Pada beberapa kasus terjadi percepatan degradasi reseptor. Keseluruhan prosesmutasi ini akan berdampak pada gangguan sistem respon sel terhadap rangsangan insulin. Beberapa mutasi hanya dapat terjadi pada kondisi resesif yang hanya berhubungan dengan resistensi insulin yang parah jika terdapat sebagai homozigot atau lebih sering jika terjadi dengan status heterozigot (Stern, 2000).

          Sebagai contoh, pada mutasi GLUT 4 homozigot yang terjadi pada hewan coba walaupun tidak terjadi tanda-tanda diabetes dan kadar gula darah tidak secara signifikan berpengaruh, namun pada tikus yang mengalami gangguan ekspresi GLUT 4 tersebut terjadi peningkatan inuslin postprandial hingga enam kali. Pada tikus tersebut juga terjadi gangguan respon glukosa pada uji toleransi insulin. Pada hewan coba yang mengalami mutasi GLUT 4 heterozigot terjadi hiperinsulinemia, hipertensi dan hiperglikemia tanpa diikuti oleh kegemukkan (Kadowaki, 2000) Penelitian yang dilakukan oleh Bruning et al. (1997) menunjukkan bahwa kondisi heterozigot alel null pada ir (insulin receptor) dan irs-1 (insulin receptor substrat 1) sebagai hasil dari kerusakkan sinergis terhadap aksi insulin pada jaringan akan menyebabkan hiperplasia sel beta dan peningkatan insiden diabetes. Heterozigot ganda pada ir dan irs-1 akan meningkatan prevalensi diabetes sebanyak 4 kali.

 

Referensi:

Astrup, A., Grunwald G. K., Melanson E. L., Saris W. H. & Hill J. O.. 2000. The role of low-fat diets in body weight control: a metaanalysis of ad libitum dietary intervention studies. Int. J. Obes. Relat. Metab. Disord., 24, 1545–1552.

Bruning, J.C., et al. 1997. Development of a novel polygenic model of NIDDM in mice heterozygous for IR and IRS-1 null alleles. Cell, 88, 561–572.

Ferrannini, E., Natali, A., Bell, P., Cavallo-Perin, P., Lalic, N., & Mingrone, G.. 1997. Insulin resistance and hypersecretion in obesity. European Group for the Study of Insulin Resistance (EGIR). J. Clin. Invest., 100, 1166–1173.

Fujioka, S., Y. Matsuzawa, K. Tokunaga, & S. Tarui. 1987. Contribution of intra-abdominal fat accumulation to the impairment of glucose and lipid metabolism in human obesity. Metabolism, 36, 54–59.

Golay, A. & Bobbioni E.. 1997. The role of dietary fat in obesity. Int. J. Obes. Relat. Metab. Disord., 21, 2–11.

Kadowaki, T. 2000. Insight into insulin resistance and type 2 diabetes from knockout mouse models. Journal of Clinical Investigation, 106, 459-465.

Karter, A. J. et al. 2005. Abdominal obesity predicts declining insulin sensitivity in non-obese normoglycaemics: the Insulin Resistance Atherosclerosis Study (IRAS). Diabetes Obes Metab., 7, 230–238.

Klein, S., et al. 2004. Absence of an effect of liposuction on insulin action and risk factors for coronary heart disease. N. Engl. J. Med., 350, 2549–2557.

Kissebah, A. H., et al. 1982. Relation of body fat distribution to metabolic complications of obesity. J. Clin. Endocrinol. Metab., 54, 254–260.

Lau, C., et al. 2005. Dietary glycemic index, glycemic load, fiber, simple sugars, and insulin resistance: the Inter99 Study. Diabetes Care., 28, 1397–1403.

Liese, A. D., et al. 2005. Dietary glycemic index and glycemic load, carbohydrate and fiber intake, and measures of insulin sensitivity, secretion, and adiposity in the Insulin Resistance Atherosclerosis Study. Diabetes Care, 28, 2832–2838.

Markovic, T. P., Jenkins A. B., Campbell L. V., Furler S. M., Kraegen E. W., & Chisholm D. J. 1998. The determinants of glycemic responses to diet restriction and weight loss in obesity and NIDDM. Diabetes Care, 21, 687–694.

McKeown, N.M., Meigs, J.B., Liu, S., Saltzman, E., Wilson,P.W.F. & Jacques,P.F. 2004. Carbohidrate Nutrition, Insulin Resistance, and the Prevalence of the Metabolic Syndrome in the Framingham Offspring Cohort. Diabetes Care, 27, 538-546.

Pereira,M.A., dkk. 2002. Effect of whole grain on insulin sensitivity in overweight hyperinsulinemic adults. American Society for Clinical Nutrition, 75, 848-855.

Peiris, A. N.,. Struve, M. F, Mueller, R. A., Lee, M. B. & Kissebah, A. H.. 1988a. Glucose metabolism in obesity: influence of body fat distribution. J. Clin. Endocrinol. Metab., 67, 760–767.

Peiris, A. N., Hennes, M. I.,  Evans, D. J.,  Wilson, C. R., Lee, M. B., & Kissebah A. H.. 1988b. Relationship of anthropometric measurements of body fat distribution to metabolic profile in premenopausal women. Acta Med. Scand. Suppl., 723: 179–188.

Stern. M.P. 2000. Strategies and prospect for finding insulin resistance genes. Journal of clinical investigation, 106;323-327.

Weyer, C., Hanson K., Bogardus C., & Pratley R. E.. 2000. Longterm changes in insulin action and insulin secretion associated with gain, loss, regain and maintenance of body weight. Diabetologia, 43, 36–46.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: